Bona Simanungkalit (Peneliti pada Pusat Penelitian Gizi dan Makanan, Depkes RI)
Kini saatnya para petarung tangguh bermain di kancah pemilihan umum Presiden Republik Indonesia. Ada tiga pasangan tangguh yang selama ini sudah pernah merasakan jabatan baik mantan presiden, mantan wakil presiden dan presiden aktif serta wakil presiden aktif alian incumbent. Ketiganya juga memakai slogan yang luar biasa sebagai contoh Pro-Rakyat, Lanjutkan dan Lebih Cepat Lebih Baik. Selama masa kampanye banyak mengusung kepedihan rakyat yang dapat diselesaikan terkesan mudah.
Tetapi apakah betul demikian mudah menyelesaikan masalah kepedihan rakyat? Ternyata tidak semudah membalikkan tangan. Sebagai bahan mari kita lihat data berikut data yang diperoleh pada riset kesehatan dasar tahun 2007, jumlah anak balita gizi buruk dan gizi kurang 18,5%, balita gizi lebih sekitar 4%, balita pendek (termasuk sangat pendek) 36,8%, balita kurus (termasuk sangat kurus) 13,6%, dan balita gemuk sekitar 12%. Termasuk jumlah anak usia sekolah (6–14 tahun) yang kurus pada anak perempuan sebesar 10,9% dan pada anak laki-laki sebesar 13,3%.
Tetapi lebih unik lagi terutama di negara-negara berkembang seperti kita ini, ditemukan angka yang menunjukkan kelebihan gizi seperti anak usia sekolah yang gemuk pada anak perempuan sebesar 6,4% dan pada anak laki-laki sebesar 9,5%. Jumlah penduduk berumur > 15 tahun yang mengalami obesitas umum adalah 19,1%, di mana proporsinya lebih besar pada perempuan (23,8%) daripada laki-laki (13,9%). Adapun jumlah penduduk berumur > 15 tahun yang mengalami obesitas sentral adalah 18,8%. Melihat dampak dari sisi ini kita kemungkinan akan berhadapan dengan penyakit gangguan pembuluh darah seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, stroke, diabetes melitus pada generasi ini.
Dampak yang terlihat dari data tersebut adalah masalah gizi pada kedua sisi yaitu sisi yang kurang dan buruk serta sisi yang lebih (overweight) dan obese. Sehingga penyelesaian dilakukan dengan berbagai cara antara lain menyempurnakan slogan empat sehat lima sempurna menjadi pedoman umum gizi seimbang. Dengan harapan dapat menangani atau berdampak positif terhadap masalah gizi di masyarakat.
Dipakailah istilah gizi seimbang dan dibuatkan pedoman umum gizi seimbang yang meliputi 13 pesan yaitu makanlah aneka ragam makanan, makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi, makanlah makanan sumber karbohidrat, setengah dari kebutuhan energi, batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kecukupan energi, gunakan garam beryodium, makanlah makanan sumber zat besi, berikan ASI saja pada bayi sampai umur 6 bulan (ASI eksklusif) dan tambahkan makanan pengganti ASI sesudahnya, biasakan makan pagi, minumlah air bersih aman yang cukup jumlahnya, lakukan aktifitas fisik secara teratur, hindari minuman yang beralkohol, makanlah makanan yang aman bagi kesehatan, bacalah label pada makanan yang dikemas
Tumpuan Utama
Apakah dengan ini sudah dapat dipastikan akan selesai masalahnya? Tentu saja tidak mudah menyelesaikannya sehingga diperlukan kegiatan yang lebih tertuju pada keluarga. Telah diluncurkan program keluarga sadar gizi yang biasa disingkat dengan Kadarzi. Kadarzi adalah suatu keluarga yang mampu mengenal, mencegah dan mengatasi masalah gizi setiap anggotanya (Direktorat Gizi, 2007). Keluarga dapat dikatakan sadar gizi jika telah berperilaku gizi yang baik dengan ciri sebagai berikut, menimbang berat badan secara teratur, memberikan ASI saja kepada bayinya sejak lahir sampai usia enam bulan disebut dengan ASI eksklusif, makan beraneka ragam, menggunakan garam beryodium, minum suplemen gizi seperti tablet tambah darah (TTD), kapsul Vitamin A dosis tinggi sesuai anjuran.
Pada tataran keluarga keadaan ini tidak serta merta bisa terlaksana dengan baik karena banyak faktor yang berkaitan dengan perilaku sadar gizi ini. (bersambung)
Pengaruh pengetahuan dan keterampilan dalam keluarga sangat berperan besar. Dalam keluarga yang mempunyai pengetahuan dasar mengenai gizi, belum tentu mempunyai sifat dan perilaku atau keterampilan serta kemauan yang baik dalam memperbaiki gizi keluarga.
Makanan yang menjadi dasar di kelompokkan ke dalam sumber tenaga misalnya beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar, kentang, sagu, roti dan mie, minyak margarin dan santan juga dapat menghasilkan tenaga. Sebagai sumber zat pengatur untuk peran memperlancar bekerjanya fungsi organ bisa diambil dari sayur-sayuran dan buah-buahan, karena mengandung vitamin dan mineral. Untuk sumber zat pembangun yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak contohnya bahan berasal nabati seperti kacang-kacangan, tempe, tahu sedangkan makanan berasal hewani adalah telur, ikan, ayam, daging, susu serta hasil olahan seperti keju, ketiganya ini harus seimbang dengan pedoman umum gizi seimbang.
Strategi Penanggulangan
Kegiatan telah banyak dilakukan di tingkat masyarakat, tetapi masih dirasa perlu dilakukan penelitian untuk strategi yang baik dalam mengantisipasi dampak buruk dari keadaan yang diakibatkan oleh masalah gizi di masyarakat terutama keluarga, demi mengatasi generasi yang ’hilang’ dari kecerdasan untuk memimpin bangsa ini di kemudian hari. Tetapi apakah memang betul masyarakat telah menjalankan hal tersebut dengan baik di lingkungan keluarganya, ini masih memerlukan penelitian yang mendalam. Saat ini sedang berlangsung penelitian di Indonesia mengenai studi pengembangan strategi untuk keberhasilan Kadarzi: Situasi Pelaksanaan dan Pengembangan Alternatif Indikator Kadarzi untuk Tahun Pertama pada 2009.
Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran situasi pelaksanaan dan alternatif indikator Kadarzi sedangkan tujuan khususnya adalah mendapatkan gambaran situasi status kesadaran gizi keluarga di daerah penelitian, gambaran situasi status kesadaran gizi provider tingkat desa di daerah penelitian, memperoleh data pengetahuan, sikap dan perilaku anggota keluarga yang terkait dengan Kadarzi, memperoleh data pengetahuan, sikap dan perilaku provider tingkat desa yang terkait dengan Kadarzi, memperoleh alternatif indikator Kadarzi yang layak, terpercaya dan terukur.
Harapan melalui dilaksanakannya penelitian ini, mampu menjawab pertanyaan sehingga semua pihak dapat mengambil posisi dan peran karena masalah ini bukan dominasi satu departemen saja, tetapi seluruh sektor harus berperan untuk menyelesaikan masalah gizi demi menuntaskan generasi yang ’hilang’ dan mendapatkan suatu generasi yang memang benar-benar dapat diandalkan dan unggul demi memimpin bangsa ini pada masa mendatang.
Semangat kampanye dalam memperbaiki kepedihan rakyat dapat dilaksanakan dengan lebih baik dan terencana terutama masalah gizi dimasyarakat dimana keluarga merupakan ujung tombaknya. Sehingga betul-betul pro rakyat yang kegiatan dan apapun istilahnya dilanjutkan apalagi lebih cepat lebih baik tentunya untuk rakyat Indonesia. (*)
Kamis, 24 Juni 2009 PADANGEKSPRES