Kembangkan Warung Pintar di Tiap Desa

Posted December 31, 2009 by bonasimanungkalit
Categories: Publication

Perkembangan jumlah penderita gizi buruk di Indonesia yang tidak pernah menurun, tak sekadar butuh keprihatinan, tapi diperlukan sinergi dari semua pihak. Sehingga image bahwa gangguan gizi buruk adalah urusan kesehatan harus dihilangkan, agar masalah ini bisa cepat tertangani. Peneliti sekaligus dokter di Puslitbang Gizi Bona Simanungkalit mengusulkan agar pemerintah atau siapapun yang peduli dengan kasus gizi buruk membuat program berkala atau kontinyu. Cukup sederhana, dengan membuat sebuah warung yang terdidik secara ekonomi di lokasi atau desa yang memiliki banyak penderita gizi buruk. Nantinya, keberadaan warung itu bisa menyediakan beragam makanan termasuk susu khusus pertumbuhan untuk masyarakat yang memiliki balita secara gratis.
Tak hanya menyediakan makanan yang bergizi, warung itupun dapat memberikan penyuluhan tentang kesehatan, pola pengasuhan, pertanian dan wawasan edukasi lainnya. Agar mereka dapat belajar memasak yang bersih, mengasuh anak yang benar dan membuat makanan bergizi untuk anak.
Tak hanya ada program, warung ini harus melibatkan mahasiswa atau LSM yang diberi insentif. Untuk warga, cukup menyerahkan kupon ketika akan membeli makanan di warung tersebut. Kenapa harus pakai kupon? Nantinya, kupon itu sebagai pertanggungjawaban bagi donatur atau pemerintah. Setelah mapan, warung itu dapat dijadikan pos dalam bentuk koperasi kemudian dana bergulir bagi masyarakat. Jika berkembang dengan baik dan masyarakat di tempat itu mampu mengelolanya, kemudian dilepas dan program warung pintar berpindah ke desa lain. “Cara tersebut lebih nyata dan dirasakan langsung manfaatnya bagi masyarakat karena ada perputaran secara ekonomi. Mudah kok, asalkan ada kontinuitas dari orang yang memiliki dana dan bisa menjadi project percontohan,” ujarnya.(pia)

http://piapoenya.blogspot.com/2008/10/pentingnya-gizi-bagi-balita.html

Pengurus Nasional Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI)

Posted December 31, 2009 by bonasimanungkalit
Categories: Publication

Committee

Advisory Board
Prof. dr. Ratna Suprapti Samil,`SpOG
Prof Dr dr Arif Adimoelja, MSc, SpAnd
Prof Dr dr Akmal Taher, SpU

President
Prof.Dr.dr. Wimpie Pangkahila,, SpAnd, FAACS

Vice President
dr. Nugroho Setiawan, MS, SpAnd
dr. I Putu Gede Kayika, SpOG
dr. Mulyadi Tedjapranata

Secretary General
dr.Johannes Soedjono, MKes, SpAnd,

Vice Secretary
dr. Hendra, MKes, SpAnd
dr.Bona Simanungkalit, MKes

Treasurer
dr. Tjahjo Djojo Tanojo, MS, SpAnd
dr. Saraswati, Mpsi
dr. AAAN Susraini, SpPA

Publication
dr Made Nyandra, SpKJ, Mrepro

7 Mitos tentang Seks di Kalangan Remaja

Posted December 31, 2009 by bonasimanungkalit
Categories: Publication

Di kalangan remaja, beredar banyak mitos mengenai seks. Tujuh mitos terpentingnya telah disajikan dengan amat manis oleh Jurnal Bogor sebagai berikut.

Mitos Vs Fakta Seputar Seks

Jurnal Bogor, 4 September 2009 oleh jayadi

narsisBogor - Rupanya di jaman modern sekarang ini, masih ada saja yang percaya dengan mitos-mitos mengenai seks, terutama di kalangan remaja. Padahal datangnya dari mulut ke mulut dan belum tentu benar. Oleh karena itu, jangan asal percaya, apalagi dipraktekkan. Biar tuntas dan jelas, akhirnya Jurnal Bogor bertanya langsung dengan Pakar Seks and Drugs Dr. Bona Simanungkalit, DHSM, M.Kes. Berikut bocorannya.

Mitos 1:

Setiap hubungan seks untuk pertama kalinya selalu ditandai dengan keluarnya darah dari vagina.

Fakta: Tidak selalu hubungan seks yang pertama kali itu terjadi perdarahan karena banyak hal yang mempengaruhinya. Apakah ada benda yang mampu masuk dan menembus liang vagina dengan kekerasan yang cukup? Apakah masih ada hymen atau selaput dara yang utuh? Serta bagaimana elastisitas dari selaput dara tersebut? Kalau selaput daranya sangat elastis kemungkinan besar tidak akan terjadi perdarahan. Perdarahan dapat juga terjadi disebabkan jauh sebelumnya terjadi kecelakaan, sehingga selaput dara sudah robek.

Mitos 2:

Loncat-loncat setelah berhubungan seks tidak akan menyebabkan kehamilan.

Fakta: Ketika sperma sudah memasuki vagina, maka sperma akan mencari sel telur yang telah matang untuk dibuahi. Kalau terjadi pertemuan dan siap dibuahi, sudah tentu loncat-loncat tidak akan mengeluarkan sperma. Jadi, tetap ada kemungkinan untuk terjadinya pembuahan atau kehamilan.

Mitos 3:

Selaput dara yang robek berarti sudah pernah melakukan hubungan seksual atau sudah tidak perawan lagi.

Fakta: Pengertian di atas harus diluruskan. Memang selaput dara merupakan selaput elastis tipis yang dapat meregang dan robek karena beberapa hal. Selain karena melakukan hubungan seks, selaput dara juga bisa robek karena kecelakaan dalam melakukan olah raga tertentu seperti naik sepeda dan berkuda atau bisa juga karena terjatuh. Karena itu, robeknya selaput dara belum tentu karena hubungan seks. Jadi bisa saja tidak ada kaitan antara robeknya selaput dara dengan hubungan seksual

Mitos 4:

Keperawanan dapat ditebak dari cara berjalan dan bentuk pinggul.

Fakta: Keperawanan tidak bisa dilihat dari bentuk pinggul atau cara jalan. Hanya bisa diketahui melalui hasil pemeriksaan dokter. Jadi hanya dari pemeriksaan khususlah yang memungkinkan diketahuinya selaput dara robek atau tidak, serta kemungkinan penyebabnya.

Mitos 5:

Ada posisi seks yang ampuh mencegah kehamilan, misalnya sambil berdiri atau di dalam air.

Fakta: Tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa gaya di atas bisa menahan laju sperma ke saluran telur. Sebaiknya untuk mencegah kehamilan tidak usah melakukan hubungan seksual bagi yang belum berkeluarga. Kalaupun ingin, gunakan kondom, inipun hanya berlaku bagi pasangan yang telah menikah.

Mitos 6:

Hubungan seks memakai kondom itu aman.

Fakta: Aman dari kehamilan dan penyakit menular seks memang betul, asalkan nggak bocor. Masalahnya, siapa yang bisa menjamin kondom seratus persen sempurna? Jadi selalu ada kemungkinan kondom robek, bocor, atau sperma berhasil masuk karena pemakaian yang tidak pas.

Mitos 7:

Hanya saling menempelkan alat kelamin alias petting tidak akan hamil.

Fakta: Kata siapa? Keadaan di atas tidak ada yang bisa menjamin tidak akan terjadi kehamilan. Pada kenyataannya, banyak pria yang sulit mengendalikan diri waktu mendekati ejakulasi. Apalagi kalau cairan bening yang keluar dari penis saat tahap saling rangsang sebenarnya sudah tercampur sel-sel sperma yang lebih dari cukup untuk membuahi.

Mitos-mitos tersebut ternyata memang sudah hidup subur di masyarakat dan pengaruhnya masih sangat kuat, bahkan juga diantara para remaja yang justeru lagi giat-giatnya mencari informasi tentang seks dan kesehatan reproduksi. Hal itu terjadi karena tidak lengkapnya informasi tentang kesehatan reproduksi yang bisa diakses oleh remaja, baik melalui lembaga formal seperti sekolah, keluarga, atau masyarakat pada umumnya.

Nasia Freemeta I

~ oleh M Shodiq Mustika di/pada 22 Desember 2009.

Ditulis dalam Mitos & Fakta
Tag: ,

http://pacaranislami.wordpress.com/2009/12/22/7-mitos-tentang-seks-di-kalangan-remaja/

Pemenang Medika Award 1998 dan 1999

Posted December 31, 2009 by bonasimanungkalit
Categories: Publication

Para Dokter Indonesia Sangat Jauh Tertinggal
Senin, 26 Jun 2000 17:22:31

Pdpersi, Jakarta – Hingga kini, minat menjadi peneliti di kalangan para dokter Indonesia, masih sangat rendah. Mereka lebih senang berpraktek dan enggan melakukan penelitian untuk menulis karya ilmiah. Keadaan ini disebabkan pula oleh tingkat apresiasi masyarakat maupun pemerintah yang belum seratus persen menghargai para peneliti.Tak heran, bila perkembangan ilmu kedokteran di Indonesia masih sangat jauh tertinggal dibanding di negara-negara tetangga kita, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.

“Padahal, mestinya dokter tidak hanya berfungsi sebagai tenaga penyembuh atau pengobat penyakit, namun juga berupaya memajukan ilmu kedokteran dengan hasil-hasil penelitiannya,” kata Pemimpin Redaksi Majalah kedokteran Medika, dr Kartono Mohamad, Sabtu (24/6), di Jakarta, saat penganugerahan Medika Award bagi dokter yang memenangkan penulisan artikel, tinjauan pustaka, dan laporan dari lapangan di Majalah Medika.

Rendahnya animo melakukan penelitian di kalangan dokter, dapat dilihat dari para pemenang Medika Award 1998 dan 1999, yang kebanyakan merupakan dokter-dokter Puskesmas dari daerah, seperti Salatiga, Pemalang, Mojokerto, Mataram, Manado, maupun Yogyakarta. Sementara tak seorang pun pemenang berasal dari DKI Jakarta –tempat berkumpulnya para dokter spesialis.

Mutu Tulisan Rendah

Menurut Kartono, ini sudah cukup membuktikan enggannya para dokter untuk meneliti. Tak hanya itu, ternyata mutu tulisan para pemenang Medika Award dua tahun terakhir ini juga rendah, terlebih jika dibandingkan dengan tulisan dokter tetangga di jurnal kedokteran internasional. Hal itu, papar Kartono, akibat akses memperoleh literatur asing, sepuluh tahun terakhir ini, juga sulit. Pasalnya, pemerintah memotong anggaran untuk membeli literatur asing bagi Perguruan Tinggi Negeri, hingga 100 persen.

“Memang memprihatinkan, jika dibandingkan dengan FK Universitas Kebangsaan di Malaysia yang menyediakan anggaran untuk membeli 5.000 literatur per tahun bagi memajukan ilmu kedokterannya. Pemerintah Malaysia juga sangat menghargai peneliti, dengan menambahkan gaji sebanyak 6.000 Ringgit kepada dokter yang bermaksud melakukan penelitian,” papar Kartono yang juga mantan Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Lucunya, Indonesia bisa tertinggal dengan Malaysia. Padahal di tahun 1970-an, dosen-dosen di FK Universitas Kebangsaan Malaysia berasal dari Indonesia. Karena itu, Kartono mengharapkan, universitas swasta yang nota bene lebih mampu menyediakan anggaran, dapat membeli berbagai literatur asing untuk menunjang para dokter dan mahasiswa kedokterannya melakukan penelitian dan menghasilkan tulisan ilmiah kedokteran.

Pemenang Medika Award 1998 dan 1999

Medika Award yang telah diselenggarakan sejak 1979 ini, diharapkan dapat meningkatkan minat menulis dan meneliti di kalangan dokter. Pemenang pertama penulisan Artikel Medika Award 1998 adalah para dokter dari Salatiga, yaitu Barodji, Sumardi, Toto Sularto, Mujiono dengan judul “Uji Coba Efikasi Beberapa Insetisida yang Diaplikasikan pada Kelambu Terhadap Nyamuk Vektor Penyakit Malaria Anopheles Aconitus Donitz”.

Adapun pemenang pertama untuk penulisan Tinjauan Pustaka Medika Award 1998 tidak ada. Sedangkan pemenang pertama penulisan Laporan dari Puskesmas Medika Award 1998 adalah Edhie Santosa Rahmat dan Subroto, dokter dari Pemalang, Jawa Tengah, dengan judul “Akselerasi Penurunan AKI Melalui Gerakan Sayang Ibu di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah”.

Sementara Medika Award 1999, memilih pemenang pertama penulisan Artikel dari Denpasar Bali, yaitu I Dewa Nyoman Wibowo, Ketut Suata, Ketut Mulyadi, Suwignyo Sumoharyo, dengan judul “Hubungan antara Infeksi Helicobacter Pylori dengan Derajat Inflamasi Mukosa Lambung”. Pemenang pertama penulisan Tinjauan Pustaka tidak ada, sedangkan pemenang pertama penulisan Laporan dari Puskesmas adalah Bona Simanungkalit dari Simalungun, Sumatera Utara, dengan judul “Puskesmas Boleh Terpencil, Kegiatan Harus Terbaik (Posyandu Lansia)”.

Lisda Yulianti H

http://pusdiknakes.or.id/persinew/?show=detailnews&kode=35&tbl=cakrawala

Sekedar tahu tentang Happy Five si penidur anak sekolahan.

Posted September 11, 2009 by bonasimanungkalit
Categories: Publication

bona_simanungkalit@yahoo.com
Happy Five dalam tangkapan Beberapa perkembangan mengenai pil Happy Five di Indonesia diantaranya penemuan pada tahun 2005 di Medan menyita sekitar 8 ribu butir pil ‘happy five’ senilai lebih Rp 500 juta. Pada 17 Februari 2006 lalu, petugas bea dan cukai Soekarno-Hatta berhasil mencegah masuknya psikotropika jenis Erimin-5 yang merupakan psikotropika golongan-IV, sebanyak 33. 960 (tiga puluh tiga ribu sembilan ratus enam puluh) butir, kemudian ditemukan lagi sebanyak 8.000 butir pil happy five bulan April 2006, 460 butir pada bulan Desember 2007 dan 30 butir bulan Juni 2008 yang dipakai oleh lima siswa Taman Kanak-kanak Sekar Bangsa dan dibawa ke Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan, karena teler setelah mengonsumsi permen coklat yang ternyata adalah barang yang mengandung psikotropika yang nama jalanannya adalah “Happy Five.” oleh anak sekolah, sehingga kasusnya menjadi ramai. Happy Five secara kimia dan efeknya Ini adalah produk dari Jepang, di sana namanya Erimin, nama jalanannya `Happy Five`, memang ditengarai sudah beredar di banyak negara Asia Tenggara seperti Singapura, Laos, Hongkong dan Indonesia. Happy Five ‘erimin five’ yang dipasarkan seharga Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per butir itu tidak diproduksi di Indonesia. Happy Five atau Erimin 5 yang berisi Nimetazepam yang merupakan hipnotik-sedatif. Hipnotik adalah obat yang digunakan mempunyai efek tidur sedangkan sedative adalah juga obat yang dapat menyebabkan efek depresi ringan susunan saraf pusat (SSP) dan tidak sampai menyebabkan tidur, hanya menjadi lebih tenang karena kepekaan korteks serebri berkurang. Happy Five atau Erimin 5 yang berisi Nimetazepam adalah derivat dari benzodiazepine yang pertama sekali disintesa di Jepang pada tahun 1964 punya efek kuat pada hypnotic, anxiolytic, sedative, dan skeletal muscle relaxant . Happy Five atau Erimin yang berisi Nimetazepam ini juga sebagian sangat poten sebagai antikonvulsan Struktur Nimetazepam seperti dengan rumus kimia C16H13N3O3 Di Malaysia tahun 1980an banyak disalahgunakan dengan nama produk Erimin-5 dalam bentuk tablet yang diblister. Dijual dalam kemasan 5 mg tablet dengan nama Erimin. Secara umum obat ini diresepkan untuk pengobatan jangka pendek dari insomnia yang berat dimana pasien mempunyai kesulitan untuk tidur dan mempertahankan untuk dapat tidur. Happy Five atau Erimin 5 yang berisi Nimetazepam mempunyai kemampuan disalahgunakan, sebagian dipakai dengan nama ‘Happy 5′ dijual sebagai pengganti Ecstasy tanpa meliputi kecanduan amphetamines atau opiates. Atas dasar ini diderah barat sudah tidak dijual lagi, tetapi masih sangat banyak disalahgunakan dibeberapa daerah Asia seperti Jepang dan Malaysia, termasuk sekarang di Indonesia. Nimetazepam merupakan obat legal terbatas di Malaysia, sementara kelangkaan obat didapat dari perdagangan pasaran gelap merupakan suatu fakta bahwa banyak yang produk palsu berisi pengganti benzodiazepine lain seperti diazepam atau nitrazepam Mereka biasanya menukarkan dipasaran gelap sebagai nimetazepam, temazepam atau triazolam. Happy Five atau Erimin 5 yang berisi Nimetazepam merupakan jenis depresan dan dipakai secara oral dalam bentuk tablet, depresan dapat membuat orang menjadi lebih tenang dan tidur. Bila digunakan secara berlebihan menyebabkan efek yang tidak baik. Efek dan bahaya yang dapat terjadi seperti kehilangan kesadaran, distorsi dari judgement, pandangan dan pikiran, sulit berbicara, bergerak dan koordinasi fungsi tubuh, hilang ingatan dan konsentrasi. Dimetabolisme di hati dan dieksresikan melalui ginjal. Gejala withdrawal dapat berupa kecemasan dan perasaan gelisah, insomnia atau sulit tidur, mual, muntah, denyut nadi cepat, keringat berlebihan, gemetar dank ram perut, kebingungan mental, gangguan syaraf. Penelitian Pada penelitian tikus ditemukan kerusakan hebat pada janin, dengan nitrazepam bila dibandingkan dengan benzodiazepine lainnya. Diazepam juga relative menunjukkan hal yang sama jeleknya pada toksisitas janin. Dengan terjadinya masalah ini terhadap anak sekolah, sebaiknya mari kita bersama-sama mencermati lebih lanjut terutama jika mempunyai putrid atau putra yang masih sekolah, kerjasama juga sebaiknya digalang secara luas tidak parsial.
Sumber : Majalah DELTA STYLE edisi Maret 2009

RISKESDAS di Kabupaten Mimika Kesempatan Emas Mengejar Perbaikan Terbaik untuk Pelayanan Publik

Posted September 11, 2009 by bonasimanungkalit
Categories: Publication

Oleh Dr. Bona Simanungkalit, DHSM, Mkes
Riskesdas adalah singkatan dari Riset Kesehatan Dasar yang telah dilaksanakan di Indonesia dan sekarang sedang berlangsung di Kabupaten Mimika. Tujuan dari Riset Kesehatan Dasar ini adalah menyediakan informasi untuk perencanaan kesehatan di tingkat kabupaten, membandingkan perkembangan kesehatan di tingkat kabupaten dan mendapatkan Evidence based untuk alokasi pembiayaan pemerintah pusat ke kabupaten serta memberi pemetaan masalah kesehatan antar kabupaten. Melihat tujuan yang begitu penting dibidang kesehatan dan secara umum dapat dipakai oleh berbagai instansi karena sample dari Susenas BPS tahun 2007, dengan harapan data yang didapat dapat di match dengan data susenas.
Penelitian ini memakai disain dan lokasi adalah potong lintang menggunakan kerangka sample Kor Sunsenas, seluruh kabupaten di Indonesia (440 kab). Populasi dan Sample Riskesdas, populasi riset ini adalah seluruh rumah tangga, sample: rumah tangga mewakili Kab/Kota sebesar 18 ribu Blok Sensus (BS) = 280 ribu RT (12-88 BS/kab) dan spesimen biomedis di Kabupaten Mimika diwakili oleh Blok Sensus Inauga.
Kabupaten Mimika mendapatkan sebesar 26 Blok Sensus yang meliputi daerah yang dijadikan sample untuk Kesehatan Masyarakat adalah Koperapoka, SP I (Kamoro Jaya), Kwamki Lama, Harapan, SP 2 (Timika Jaya), SP 3 Karang Senang, SP 7 (Mulia Kencana), Inauga, SP 9 (Wangirja), SP 13 (Bhintuka), Tipuka (Mimika Timur), Atuka (Mimika Tengah), Jita (Sempan Timur), Agimuga (Kiliarma), Potowayburu (Mimbar).
Pertanyaan dan pengukuran serta pemeriksaan
Banyak pertanyaan yang dilakukan dalam bentuk wawancara meliputi pola penyakit, penyebab kematian, akses terhadap pelayanan kesehatan, sanitasi lingkungan, pembiayaan kesehatan, konsumsi makanan rumah tangga, penyakit menular (ISPA, pnemonia, campak, typhoid, malaria, diare, TBC, DBD, hepatitis, filariasis), penyakit tidak menular (jantung, DM, tumor, sendi, hipertensi, stroke, katarak, asma, kes. gigi & mulut), cedera & kecelakaan, riwayat penyakit keturunan (kanker dan talasemia), ketanggapan pelayanan kesehatan (rawat inap dan berobat jalan), pengetahuan, sikap dan prilaku (flu butung, HIV/AIDS, prilaku hygienis, tembakau, alkohol, aktivitas fisik, pola konsumsi), disabilitas/ketidakmampuan, kesehatan mental,imunisasi, kesehatan bayi (BBLR, buku KIA/KMS), stantus gizi balita, WUS, dan ibu hamil, faktor resiko penyakit tidak menular, gangguan refraksi, status gigi permanent, konsumsi garam beriodium dan pemeriksaan darah atau Biomedis melingkupi penyakit menular (Dengue, TB, Malaria, Rubella, HIV, Typhoid, PMS, CMV), penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (DPT, Campak, Hepatitis), penyakit tidak menular/kronik degeneratif (DM, Dislipidemia, Thyroid, Kardiovaskuler, Thrombosis, Keganasan), kelainan gizi (Anemia, KVA) penyakit kelamin bawaan (Thalassemia), kadar Yodium dalam urine.
Kuesioner Riset Kesehatan Dasar ini terdiri dari kuesioner rumah tangga, kuesioner individu, kuesioner gizi, Autopsi Verbal (kematian). Selain pertanyaan dalam bentuk kuesioner, juga dilakukan pengukuran dan pemeriksaan secara fisik yang meliputi pengukuran anthropometri seperti berat badan dan tinggi/panjang badan, tekanan darah khusus untuk usia diatas dan sama dengan 15 tahun, lingkar perut dan lingkar lengan atas khusus wanita usia subur (15-45 tahun) termasuk ibu hamil, pemeriksaan visus (mata) khusus diatas 5 tahun, pemeriksaan gigi permanent khusus berusia sama dan diatas 12 tahun dan pemeriksaan darah dan urin pada daerah terpilih, jadi tidak semua daerah dilakukan pemeriksaan terakhir ini.
Data merupakan kesempatan emas bagi pemda kabupaten
Semua data yang terkumpul segera dilakukan editing dan entry di kota Timika, bukan saja dari Kabupaten Mimika tetapi dari Kabupaten Paniai, Kabupaten Asmat dan Kabupaten Puncak Jaya. Data yang sudah dientry akan dikirim ke pusat untuk dilakukan tahapan berikutnya sampai nanti dapat dianalisa lebih lanjut. Pemerintah kabupaten dapat memakai data ini untuk perencanaan yang loebih baik dalam program untuk kepentingan masyarakat. Karena data yang terkumpul ini juga dapat dilakukan matching dengan data Susenas 2007 karena sample yang diambil adalah bagian dari data sunsenas. Data yang dilakukan matching tadi tentu bisa menghasilkan banyak keluaran, bukan saja masalah kesehatan tetapi juga bisa dikaitkan dengan program jangka pendek, menegah dan panjang guna pembangunan masyarakat ditingkat kabupaten.
Dengan baiknya data yang dipakai dan program direncanakan sesuai masalah yang didapat dan pelaksanaan dilapangan akan semakin terukur dan terarah dengan baik, yang akhirnya masyarakat akan merasakan peranan pemerintah dalam kehidupan masyarakat itu sendiri. Inilah merupakan kesempatan emas dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan dilingkungan pemerintah kabupaten dalam hal ini Kabupaten Mimika juga memilikinya, semoga terwujud.
* Dr. Bona Simanungkalit, DHSM, Mkes
Pendamping Penanggung Jawab Teknis Kabupaten Mimika-Papua
Email: bona_simanungkalit@yahoo.com

RADAR TIMIKA, Rabu, 24/09/2008 | 03:05 (GMT+9)

http://www.radartimika.com/index.php?mod=article&cat=Opini&article=12170

Tim RISKESDAS Riset Kesehatan di Mimika

Posted September 11, 2009 by bonasimanungkalit
Categories: Publication

TIMIKA – Tim Riset Kesehatan Dasar (Rinkesdas) dari Jakarta yang berjumlah empat orang sejak, Senin (8/9) terjun ke lapangan melakukan riset kesehatan di wilayah Kabupaten Mimika. Sesuai rencana pelaksanaan riset akan berlangsung selama sebulan penuh.
Demikian dikatakan Penanggungjawab Teknis Riskesdas, Dr. Bona Simanungkolit, DHSM, M. Kes kepada Radar Timika di kantornya, Jl Pendidikan, Jalur VI, Kamis (11/9). Riset yang dilakukan berkaitan dengan kesehatan seperti, penyakit menular, penyakit turunan, imunisasi, kesehatan bayi, gizi lingkar perut (perut besar), HIV/AIDS, flu burung, penggunaan tembako, alkohol, rehabilitas dan pemeriksaan darah.
Selain melakukan riset terhadap sejumlah penyakit yang diderita masyarakat Kabupaten Mimika, sesuai dengan pesan Menteri Kesehatan RI, tim juga melakukan riset kesehatan Ibu dan anak.
Dijelaskan, sebelum melakukan tugas lapangan, tim terlebih dahulu mengikuti training di Jayapura, kemudian kegiatan yang sama di lakukan di Biak dan terakhir di Merauke.
“Riset ini dilakukan secara nasional dengan tim yang sudah ditentukan. Artinya, dilakukan secara menyeluruh di seluruh Indonesia,”jelasnya. Adapun wilayah Riskesdas yang dilakukannya di Kabupaten Mimika yakni, Koperapoka, Kampung Kamoro Jaya (SP I), Kwamki Lama, SP VII, Kelurahan Harapan, SP III, Kampung Inauga, Wagirja, Bintuka, Iwaka, Tipuka, Atuka, Jita, Agimuga dan Potowaiburu.
Hasil riset tersebut akan dijadikan data pemerintah pusat yang selanjutnya dikembalikan lagi ke provinsi dan kabupaten sebagai bahan acuan dalam membuat program kesehatan masyarakat.
Pelaksanaan riset, tim bekerjasama dengan kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mimika. Ini dikarenakan BPS sangat mengetahui persoalan daerah, termasuk data penduduk. “Kita bersyukur selama riset berlangsung belum ada kendala yang berarti. Masyarakat juga menerima tim dengan baik dan memberikan informasi yang diperlukan,”tutur Bona. (tmy)
RADAR TIMIKA, Jumat, 12/09/2008 | 04:38 (GMT+9)

http://www.radartimika.com/index.php?mod=article&cat=MimikaMembangun&article=11518

Keluarga Sadar Gizi Seimbang Lahirkan Generasi Unggul (2)

Posted July 4, 2009 by bonasimanungkalit
Categories: Publication

Bona Simanungkalit (Peneliti pada Pusat Penelitian Gizi dan Makanan, Depkes RI)
Pengaruh pengetahuan dan keterampilan dalam keluarga sangat berperan besar. Dalam keluarga yang mempunyai pengetahuan dasar mengenai gizi, belum tentu mempunyai sifat dan perilaku atau keterampilan serta kemauan yang baik dalam memperbaiki gizi keluarga.

Makanan yang menjadi dasar dikelompokkan ke dalam sumber tenaga misalnya beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar, kentang, sagu, roti dan mie, minyak margarin dan santan juga dapat menghasilkan tenaga. Sebagai sumber zat pengatur untuk peran memperlancar bekerjanya fungsi organ bisa diambil dari sayur-sayuran dan buah-buahan, karena mengandung vitamin dan mineral.

Untuk sumber zat pembangun yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak contohnya bahan berasal nabati seperti kacang-kacangan, tempe, tahu sedangkan makanan berasal hewani adalah telur, ikan, ayam, daging, susu serta hasil olahan seperti keju, ketiganya ini harus seimbang dengan pedoman umum gizi seimbang.

Strategi Penanggulangan

Kegiatan telah banyak dilakukan di tingkat masyarakat, tetapi masih dirasa perlu dilakukan penelitian untuk strategi yang baik dalam mengantisipasi dampak buruk dari keadaan yang diakibatkan oleh masalah gizi di masyarakat terutama keluarga, demi mengatasi generasi yang ”hilang” dari kecerdasan untuk memimpin bangsa ini di kemudian hari. Tetapi apakah memang betul masyarakat telah menjalankan hal tersebut dengan baik di lingkungan keluarganya, ini masih memerlukan penelitian yang mendalam.

Saat ini sedang berlangsung penelitian di Indonesia mengenai studi pengembangan strategi untuk keberhasilan Kadarzi: Situasi Pelaksanaan dan Pengembangan Alternatif Indikator Kadarzi untuk Tahun Pertama pada 2009.

Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran situasi pelaksanaan dan alternatif indikator Kadarzi sedangkan tujuan khususnya adalah mendapatkan gambaran situasi status kesadaran gizi keluarga di daerah penelitian, gambaran situasi status kesadaran gizi provider tingkat desa di daerah penelitian, memperoleh data pengetahuan, sikap dan perilaku anggota keluarga yang terkait dengan Kadarzi, memperoleh data pengetahuan, sikap dan perilaku provider tingkat desa yang terkait dengan Kadarzi, memperoleh alternatif indikator Kadarzi yang layak, terpercaya dan terukur.

Harapan melalui dilaksanakannya penelitian ini, mampu menjawab pertanyaan sehingga semua pihak dapat mengambil posisi dan peran karena masalah ini bukan dominasi satu departemen saja, tetapi seluruh sektor harus berperan untuk menyelesaikan masalah gizi demi menuntaskan generasi yang ”hilang” dan mendapatkan suatu generasi yang memang benar-benar dapat diandalkan dan unggul demi memimpin bangsa ini pada masa mendatang.

Semangat kampanye dalam memperbaiki kepedihan rakyat dapat dilaksanakan dengan lebih baik dan terencana, terutama masalah gizi di masyarakat di mana keluarga merupakan ujung tombaknya. Sehingga semua kegiatan betul-betul prorakyat, dan apa pun istilahnya tetap dilanjutkan. Apalagi jika lebih cepat lebih baik, tentunya untuk rakyat Indonesia. (habis)

Kamis, 25 Juni 2009 PADANGEKSPRES

Keluarga Sadar Gizi Seimbang Lahirkan Generasi Unggul

Posted July 4, 2009 by bonasimanungkalit
Categories: Publication

Bona Simanungkalit (Peneliti pada Pusat Penelitian Gizi dan Makanan, Depkes RI)
Kini saatnya para petarung tangguh bermain di kancah pemilihan umum Presiden Republik Indonesia. Ada tiga pasangan tangguh yang selama ini sudah pernah merasakan jabatan baik mantan presiden, mantan wakil presiden dan presiden aktif serta wakil presiden aktif alian incumbent. Ketiganya juga memakai slogan yang luar biasa sebagai contoh Pro-Rakyat, Lanjutkan dan Lebih Cepat Lebih Baik. Selama masa kampanye banyak mengusung kepedihan rakyat yang dapat diselesaikan terkesan mudah.

Tetapi apakah betul demikian mudah menyelesaikan masalah kepedihan rakyat? Ternyata tidak semudah membalikkan tangan. Sebagai bahan mari kita lihat data berikut data yang diperoleh pada riset kesehatan dasar tahun 2007, jumlah anak balita gizi buruk dan gizi kurang 18,5%, balita gizi lebih sekitar 4%, balita pendek (termasuk sangat pendek) 36,8%, balita kurus (termasuk sangat kurus) 13,6%, dan balita gemuk sekitar 12%. Termasuk jumlah anak usia sekolah (6–14 tahun) yang kurus pada anak perempuan sebesar 10,9% dan pada anak laki-laki sebesar 13,3%.

Tetapi lebih unik lagi terutama di negara-negara berkembang seperti kita ini, ditemukan angka yang menunjukkan kelebihan gizi seperti anak usia sekolah yang gemuk pada anak perempuan sebesar 6,4% dan pada anak laki-laki sebesar 9,5%. Jumlah penduduk berumur > 15 tahun yang mengalami obesitas umum adalah 19,1%, di mana proporsinya lebih besar pada perempuan (23,8%) daripada laki-laki (13,9%). Adapun jumlah penduduk berumur > 15 tahun yang mengalami obesitas sentral adalah 18,8%. Melihat dampak dari sisi ini kita kemungkinan akan berhadapan dengan penyakit gangguan pembuluh darah seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, stroke, diabetes melitus pada generasi ini.

Dampak yang terlihat dari data tersebut adalah masalah gizi pada kedua sisi yaitu sisi yang kurang dan buruk serta sisi yang lebih (overweight) dan obese. Sehingga penyelesaian dilakukan dengan berbagai cara antara lain menyempurnakan slogan empat sehat lima sempurna menjadi pedoman umum gizi seimbang. Dengan harapan dapat menangani atau berdampak positif terhadap masalah gizi di masyarakat.

Dipakailah istilah gizi seimbang dan dibuatkan pedoman umum gizi seimbang yang meliputi 13 pesan yaitu makanlah aneka ragam makanan, makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi, makanlah makanan sumber karbohidrat, setengah dari kebutuhan energi, batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kecukupan energi, gunakan garam beryodium, makanlah makanan sumber zat besi, berikan ASI saja pada bayi sampai umur 6 bulan (ASI eksklusif) dan tambahkan makanan pengganti ASI sesudahnya, biasakan makan pagi, minumlah air bersih aman yang cukup jumlahnya, lakukan aktifitas fisik secara teratur, hindari minuman yang beralkohol, makanlah makanan yang aman bagi kesehatan, bacalah label pada makanan yang dikemas

Tumpuan Utama

Apakah dengan ini sudah dapat dipastikan akan selesai masalahnya? Tentu saja tidak mudah menyelesaikannya sehingga diperlukan kegiatan yang lebih tertuju pada keluarga. Telah diluncurkan program keluarga sadar gizi yang biasa disingkat dengan Kadarzi. Kadarzi adalah suatu keluarga yang mampu mengenal, mencegah dan mengatasi masalah gizi setiap anggotanya (Direktorat Gizi, 2007). Keluarga dapat dikatakan sadar gizi jika telah berperilaku gizi yang baik dengan ciri sebagai berikut, menimbang berat badan secara teratur, memberikan ASI saja kepada bayinya sejak lahir sampai usia enam bulan disebut dengan ASI eksklusif, makan beraneka ragam, menggunakan garam beryodium, minum suplemen gizi seperti tablet tambah darah (TTD), kapsul Vitamin A dosis tinggi sesuai anjuran.

Pada tataran keluarga keadaan ini tidak serta merta bisa terlaksana dengan baik karena banyak faktor yang berkaitan dengan perilaku sadar gizi ini. (bersambung)
Pengaruh pengetahuan dan keterampilan dalam keluarga sangat berperan besar. Dalam keluarga yang mempunyai pengetahuan dasar mengenai gizi, belum tentu mempunyai sifat dan perilaku atau keterampilan serta kemauan yang baik dalam memperbaiki gizi keluarga.

Makanan yang menjadi dasar di kelompokkan ke dalam sumber tenaga misalnya beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar, kentang, sagu, roti dan mie, minyak margarin dan santan juga dapat menghasilkan tenaga. Sebagai sumber zat pengatur untuk peran memperlancar bekerjanya fungsi organ bisa diambil dari sayur-sayuran dan buah-buahan, karena mengandung vitamin dan mineral. Untuk sumber zat pembangun yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak contohnya bahan berasal nabati seperti kacang-kacangan, tempe, tahu sedangkan makanan berasal hewani adalah telur, ikan, ayam, daging, susu serta hasil olahan seperti keju, ketiganya ini harus seimbang dengan pedoman umum gizi seimbang.

Strategi Penanggulangan

Kegiatan telah banyak dilakukan di tingkat masyarakat, tetapi masih dirasa perlu dilakukan penelitian untuk strategi yang baik dalam mengantisipasi dampak buruk dari keadaan yang diakibatkan oleh masalah gizi di masyarakat terutama keluarga, demi mengatasi generasi yang ’hilang’ dari kecerdasan untuk memimpin bangsa ini di kemudian hari. Tetapi apakah memang betul masyarakat telah menjalankan hal tersebut dengan baik di lingkungan keluarganya, ini masih memerlukan penelitian yang mendalam. Saat ini sedang berlangsung penelitian di Indonesia mengenai studi pengembangan strategi untuk keberhasilan Kadarzi: Situasi Pelaksanaan dan Pengembangan Alternatif Indikator Kadarzi untuk Tahun Pertama pada 2009.

Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran situasi pelaksanaan dan alternatif indikator Kadarzi sedangkan tujuan khususnya adalah mendapatkan gambaran situasi status kesadaran gizi keluarga di daerah penelitian, gambaran situasi status kesadaran gizi provider tingkat desa di daerah penelitian, memperoleh data pengetahuan, sikap dan perilaku anggota keluarga yang terkait dengan Kadarzi, memperoleh data pengetahuan, sikap dan perilaku provider tingkat desa yang terkait dengan Kadarzi, memperoleh alternatif indikator Kadarzi yang layak, terpercaya dan terukur.

Harapan melalui dilaksanakannya penelitian ini, mampu menjawab pertanyaan sehingga semua pihak dapat mengambil posisi dan peran karena masalah ini bukan dominasi satu departemen saja, tetapi seluruh sektor harus berperan untuk menyelesaikan masalah gizi demi menuntaskan generasi yang ’hilang’ dan mendapatkan suatu generasi yang memang benar-benar dapat diandalkan dan unggul demi memimpin bangsa ini pada masa mendatang.

Semangat kampanye dalam memperbaiki kepedihan rakyat dapat dilaksanakan dengan lebih baik dan terencana terutama masalah gizi dimasyarakat dimana keluarga merupakan ujung tombaknya. Sehingga betul-betul pro rakyat yang kegiatan dan apapun istilahnya dilanjutkan apalagi lebih cepat lebih baik tentunya untuk rakyat Indonesia. (*)

Kamis, 24 Juni 2009 PADANGEKSPRES

Menggugat Perlunya Surat Bebas Narkoba

Posted May 4, 2009 by bonasimanungkalit
Categories: Publication

Oleh Bona Simanungkalit

Banyak perguruan tinggi di Tanah Air yang melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian calon mahasiswa. Dalam hal ini, tidak ada perguruan tinggi yang “menjual” kelemahannya. Yang dijual antara lain menyangkut alumni yang bekerja di perusahaan ternama atau menjadi petinggi di perusahaan tersebut. Tidak sedikit perguruan tinggi yang mengunggulkan lembaganya dengan slogan “bebas dari narkoba”. Salah satu cara yang dilakukan adalah lulus persyaratan administrasi dan akademik. Pemeriksaan urine untuk mendapatkan surat keterangan bebas narkoba adalah salah satu syarat administrasi. Lalu timbul pertanyaan, perlukah pemeriksaan urine untuk mendapatkan surat keterangan bebas narkoba ketika menerima calon mahasiswa? Pertanyaan ini kita coba pahami dari aspek medis menyangkut pemeriksaan urine. Di kalangan masyarakat umum, narkoba adalah singkatan dari Narkotika, Psikotropika, dan Bahan Adiktif lainnya. Jenis narkotika menurut UU No 22 Tahun 1977 terbagi dalam empat golongan, yakni heroin, ganja, kokain, dan kodeina. Yang dimaksud dengan psikotropika, menurut UU No 5 Tahun 1997, adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika, menurut undang-undang ini juga terbagi dalam empat golongan, misalnya, ekstasi dan sabu-sabu. Sedangkan bahan adiktif, misalnya, alkohol, dan rokok. Secara medis narkoba dapat dibagi golongannya, antara lain, stimulansia, yakni zat yang mempengaruhi sistem susunan saraf pusat dengan merangsang, sehingga dapat meningkatkan kesadaran dan aktivitas motorik. Misalnya kafein, amfetamine, nikotin, dan kokain. Halusinogenik adalah zat yang menimbulkan gejala halusinasi, ilusi, dan dilusi di samping mampu mengubah perasaan. Contoh dari golongan ini adalah LSD (d-lysergic acid diethylamide), mushroom, meskalin, dan kecubung. Depresan merupakan penekanan atau penghambatan terhadap susunan saraf pusat. Golongan ketamin ini pada dosis tertentu dapat bersifat stimulansia, tapi di sisi lain bisa bersifat depresan. Golongan entactogen, misalnya, ekstasi dan sabu-sabu dapat bersifat stimulansia dan bisa juga bersifat halusinogen. Sedangkan, golongan canabinoid yang biasa didapatkan pada ganja, bersifat halusinogen. Pada dosis tertentu dapat bersifat depresan. Kemungkinan Efek Ekstasi, XTC, inex, dan sabu-sabu dimasukkan ke dalam golongan entactogen yang dapat berupa efek stimulansia dengan merangsang susunan saraf pusat serta mampu berefek alusinogen.yang masuk ke dalam golongan amfetamin, yaitu MDMA (3,4-methylenedioxymethamphetamine). Efek yang mungkin dapat terjadi kalau sampai ke tingkat keracunan, antara lain, muntah, agitasi, hipertensi, pembesaran pupil, pandangan kabur, peningkatan frekuensi napas, dehidrasi/kurang cairan, berkeringat banyak, keram otot, rahang kaku, tremor, cemas, emosi tidak stabil, euforia, curiga, halusinasi, bahkan bisa delirium/mengigau sampai koma. Sedangkan, penyalahguna narkoba jenis heroin, yang di jalanan disebut dengan putaw, merupakan golongan depresan yang bersifat menekan susunan saraf pusat. Efek yang kemungkinan dapat terlihat adalah tenang sedikit apatis, euforia, gangguan pencernaan, penekanan pernapasan, kebal, mual, muntah, bicara cadel, denyut nadi melambat, pupil mata mengecil (pin point pupil), dan dapat kejang. Perlukah penerimaan mahasiswa melalui pemeriksaan urine? Kalau melihat betapa hebatnya efek yang terjadi pada penyalahguna narkoba, seperti contoh pada golongan amphetamine dan heroin, tentu kita mulai berpikir supaya mahasiswa kita tidak perlu terlibat dalam tindak penyalahgunaan narkoba tersebut. Dunia pendidikan ingin menerapkan suatu nilai yang baik bagi mahasiswanya, di samping bisa mendapatkan hasil lain, yaitu promosi yang baik bagi calon pendaftar berikutnya. Oleh karena itu, tidak sedikit perguruan tinggi yang menerapkan peraturan, yakni calon mahasiswa harus mendapat surat bebas narkoba dengan cara mengikuti tes urine. Bila hasil pemeriksaan urine negatif maka dianggap amanlah peserta untuk melanjutkan proses selanjutnya. Ada anggapan bahwa pola rekrutmen demikian berhasil dan perguruan tinggi tersebut dapat dikatakan bebas dari penyalahgunaan narkoba. Dengan demikian, peringkatnya lebih baik. Deteksi Selanjutnya mari kita lihat dari aspek medis. Golongan amphetamine, misalnya ekstasi/sabu-sabu, dapat dideteksi melalui urine yang hanya bertahan sekitar dua hari. Para penyalahguna golongan ini akan puasa empat hari sebelum pemeriksaan urine. Tentu kita sudah dapat memperkirakan hasilnya adalah negatif. Ini menunjukkan dia tidak memakai, tapi bukan berarti bukan pemakai narkoba jenis amphetamine. Sementara itu penyalahguna heroin akan memberhentikan kegiatannya dalam waktu yang tidak berbeda dengan amphetamine, karena memang urine yang memakai heroin hanya dapat bertahan selama sekitar dua hari. Bila hal ini terjadi apakah masih berguna pemeriksaan pada saat penerimaan tadi? Kalau seperti ini yang terjadi tentu tidak akan banyak gunanya. Pemeriksaan urine untuk penyalahguna narkoba kita sebut dengan drug abuse test yang terdiri dari jenis amphetamine, opiate, canabinoid, benzodiazepine, barbiturate, cocaine. Harga per jenisnya Rp 31.500. Jadi, total Rp 189.000 per orang. Seandainya pada saat itu diterima sebanyak 500 orang maka biaya yang dihabiskan Rp 94.500.000. Itu nilai yang tidak kecil. Pemeriksaan urine sebaiknya dilakukan tanpa direncanakan selama peserta menjadi bagian dari lembaga tersebut. Caranya adalah saat mendaftar dibuat pernyataan bermeterai yang isinya tidak keberatan bila diperiksa urinenya sewaktu-waktu.

Penulis adalah Wakil Ketua PALMA (Peduli AIDS Lestarikan Masa Depan Anda)

Sumber : SUARA PEMBARUAN 15 Juli 2008 http://202.169.46.231/last/index.html


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.